Banyak yang bilang mandiri itu hanya tentang hidup sendiri, bisa menghasilkan uang sendiri dan tanpa merepotkan orang tua sedikitpun. Menurutku... di era globalisasi seperti ini kemandirian ga' bisa di artikan sesederhana itu. karena ternyata ba....nyak sekali orang yang masih belum mandiri. Bahkan yang membuatku semakin miris adalah semakin maraknya tempat les dan kursus. Padahal menurutku dengan banyaknya tempat les dan kursus akan mematikan daya kreatifitas, inovasi dan produktivitas seseorang. Dan itu akan lebih di perpah lagi dengan ketergantungan seseorang pada tempat les, atau guru pendamping. Memang... perlu sekali adanya tempat kursus unutk mengasah skill. Hanya saja banyak orang tua khususnya yang mengkrsuskan anaknya tanpa tujuan-tujuan khusus yang bisa memebangkitkan semangatnya. akhirnya yang terjadi adalah kesia-siaan semata.
Saya punya seorang teman yang begitu mancdiri, kreatif dan inovatif sekali. dia tinggal di pedalaman pedesaan. tapi skill dan kemandiriannya g bisa dipandang sebelah mata. Karena dia adalah anak yang tidak mengenyam kursus tapi dia bisa melebihi anakk yang mengikuti kursus. ternyata rahasianya adalah tidak ketergantungan, kemandirian dan kesungguhan dalam mendalami dan mengerjakan sesuatu. Dengan minimnya fasilitas dia bisa berfikir begitu kreatif dan inovatif
Monday, September 5, 2016
Wednesday, June 8, 2016
Hari pertama ramadhan 1437 H
Seperti orang yang ingin bepergian jauh tanpa bekal dan tujuan yang masih belum jelas. aku menginjakkan kaki di hari pertama bulan ramdadhan. mengumpulkan sisa tenaga dan kepingan semangat yang masih tercecer di dalam rumah. aku memberanikan diri untuk membuat target sholat hajat 12 rokaat + tahajjud. ditambah dengan hattam al-qur'an sampai 3x. namun godaan dan gangguan itu masih saja datang. aku memang bukan seorang fighter sejati, yang bisa bertarung seorang diri. bertarung melawan amarah, nafsu dan godaan akalku sendiri. dari keinginan untuk bisa membangun suasana romadhan di rumah sampai dengan membangun suasana damai di setiap suasanaku. semua keinginanku itu ternyata terlalu sulit untuk aku wujudkan seorang diri, entah karena aku belum tau caranya atau memang caraku yang salah.
aku iri pada air, yang terus saja mengalir walau terkena batu keras dan padas.
aku iri pada matahari yang sinarnya tak pernah berhenti walau tak ada yang berterimakasih.
aku iri pada tanah yang tetap sabar walau diinjak bahkan diludahi sekalipun.
aku iri pada angin, sepoinya bisa memberikan ketenangan di tengah hiruk pikuk masal yang ada.
aku, sering kali masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. dari keinginan dan harapan yang masih belum tercapai. sampai dengan usaha untuk selalu dirodhoi olehNYA. seperti perahu layar di tengah lautan, terombang-ambing ombak tanpa tau arah.
aku belum bisa menjadi nahkoda diatas perahu yang kunaiki.
#DAI day 1
aku iri pada air, yang terus saja mengalir walau terkena batu keras dan padas.
aku iri pada matahari yang sinarnya tak pernah berhenti walau tak ada yang berterimakasih.
aku iri pada tanah yang tetap sabar walau diinjak bahkan diludahi sekalipun.
aku iri pada angin, sepoinya bisa memberikan ketenangan di tengah hiruk pikuk masal yang ada.
aku, sering kali masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. dari keinginan dan harapan yang masih belum tercapai. sampai dengan usaha untuk selalu dirodhoi olehNYA. seperti perahu layar di tengah lautan, terombang-ambing ombak tanpa tau arah.
aku belum bisa menjadi nahkoda diatas perahu yang kunaiki.
#DAI day 1
Sunday, March 6, 2016
Diskusi Penuh Makna
Aku besar dalam keluarga yang mengerti agama. Aku sekolah dari TK sampai Kuliah g pernah lepas dari lingkungan masjid. Dari situ aku banyak belajar tentang agama islam. Berangkat dari lingkungan agamis ini, aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat faham mengenai agama. Dan itu merupakan sebuah keuntungan besar buatku. Karena hanya dengan berkumpul dengan mereka saja aku dianggap ALIM oleh teman-temanku. G sampai disitu, bahkan akupun jadi malu untuk berbuat nyimpang layaknya anak remaja pada umunya. Mulai dari pacaran, ngerokok, ngedrugs, sampai tawuran alhamdulillah aku g pernah menyentuhnya.
Selain dibesarkan dari lingkungan yang agamis, aku jug aberperan aktif dalam beberapa ekskul.Dari PMR, REMUS (Remaja Musholla), sampai REMAS AT-TAQWA (Remaja Masjid Agung Kabupaten) di Bondowoso. Berkumpul dengan orang - orang yang ahli agama, yang notabene mereka adalah jebolan PONDOK. aku jadi sering aktif dalam kajian keislaman. G sampai disitu aja. Teman-temanku itu bahkan sering ngadain diskusi setiap akhir pekan. Dan g tangung-tangung, diskusinya dari habis isya' bisa nyampe subuh. Aku g pernah kebayang sebelumnya bisa larut dalam diskusi yang isinya "daging" semua kayak gitu. Apalagi ditambah dengan guyonan masalah-masalah yang sedang HOT saat itu. Beh... tambah mantep dah.
Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman-teman saya. seperti biasanya kami berangkat dari ranah kehidupan pribadi sampai ke ranah agama. tiba-tiba kami semua mencium bau bangkai yang sangat menyengat. sampai-samapi saya pun merasa mual, seperti ingin muntah. ternyata setelah saya tanyakan pada teman saya yang punya kelebihan bisa melihat hal-hal gaib. Dia bilang bahwa baru saja ada orang yang datang. Ternyata dia adalah tetangga teman saya yang rumahnya tidak jauh dari rumah teman saya itu. Yang kebetulan baru saja meninggal dunia. setelah mendengar penjelasan dari sahabat saya itu. saya langsung merinding. lantas saya bertanya pada sahabat saya itu. "kenapa bisa sebau ini?", "bukankah tiap malam sudah banyak yang menahlilkan?". ternyata doa orang yang tahlilan, yang khusus mendoakan sang almarhum tidak cukup untuk mengurangi beban siksaan di dalam kubur kata sahabatku itu. Dan... setelah ditelusuri lagi, sang almarhum selama hidupnya sering g sholat, suka judi dan g amanah. wah... saya ngerasa tertampar mendengarnya. karena pada hari itu, saya bangun kesiangan. Hingga subuh pun kesiangan.
Di waktu berikutnya. seperti biasa saya berdiskusi dengan teman-teman saya. Tiba-tiba ada segerombolan "amen" datang. tak disangka... yang sebelumnya amen itu bernyanyi dangdut. ketika sampai di rumah teman saya itu, dia langsung bernyanyi islami. tepatnya lagu surgaku milik ungu. Kebetulan kami waktu itu sedang membahas mengenai agama dalam kahidupan sehari-hari.
Pernah juga, suatu waktu. pada saat kami diskusi di alun-slun kota. kami dihampiri oleh orang gila. dengan pakaian compang-camping dan ngomong yang g karuan, tiba-tiba dia duduk di kerumunan kami dan berbicara pelan... dan sangat santun. walaupun masih ngomong ngalor ngidul. tapi... ada satu yang bisa dipetik dari omongan orang gila tadi, bahwa banyak orang yang masih senang buang sampah sembarangan walau sudah ada sampah di depannya.
Dan... Kegiatan berdiskusi sudah menjadi hobi bagiku. Bahkan sampai hari ini, kami biasa menyematkan di akhir pekan untuk berkumpul bersama. sejenak melepas lelah dan rindu setelah sibuk oleh kesibukan pribadi. Bagiku... teman-teman berdiskusiku adalah keluarga.
#30DWC
Selain dibesarkan dari lingkungan yang agamis, aku jug aberperan aktif dalam beberapa ekskul.Dari PMR, REMUS (Remaja Musholla), sampai REMAS AT-TAQWA (Remaja Masjid Agung Kabupaten) di Bondowoso. Berkumpul dengan orang - orang yang ahli agama, yang notabene mereka adalah jebolan PONDOK. aku jadi sering aktif dalam kajian keislaman. G sampai disitu aja. Teman-temanku itu bahkan sering ngadain diskusi setiap akhir pekan. Dan g tangung-tangung, diskusinya dari habis isya' bisa nyampe subuh. Aku g pernah kebayang sebelumnya bisa larut dalam diskusi yang isinya "daging" semua kayak gitu. Apalagi ditambah dengan guyonan masalah-masalah yang sedang HOT saat itu. Beh... tambah mantep dah.
Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman-teman saya. seperti biasanya kami berangkat dari ranah kehidupan pribadi sampai ke ranah agama. tiba-tiba kami semua mencium bau bangkai yang sangat menyengat. sampai-samapi saya pun merasa mual, seperti ingin muntah. ternyata setelah saya tanyakan pada teman saya yang punya kelebihan bisa melihat hal-hal gaib. Dia bilang bahwa baru saja ada orang yang datang. Ternyata dia adalah tetangga teman saya yang rumahnya tidak jauh dari rumah teman saya itu. Yang kebetulan baru saja meninggal dunia. setelah mendengar penjelasan dari sahabat saya itu. saya langsung merinding. lantas saya bertanya pada sahabat saya itu. "kenapa bisa sebau ini?", "bukankah tiap malam sudah banyak yang menahlilkan?". ternyata doa orang yang tahlilan, yang khusus mendoakan sang almarhum tidak cukup untuk mengurangi beban siksaan di dalam kubur kata sahabatku itu. Dan... setelah ditelusuri lagi, sang almarhum selama hidupnya sering g sholat, suka judi dan g amanah. wah... saya ngerasa tertampar mendengarnya. karena pada hari itu, saya bangun kesiangan. Hingga subuh pun kesiangan.
Di waktu berikutnya. seperti biasa saya berdiskusi dengan teman-teman saya. Tiba-tiba ada segerombolan "amen" datang. tak disangka... yang sebelumnya amen itu bernyanyi dangdut. ketika sampai di rumah teman saya itu, dia langsung bernyanyi islami. tepatnya lagu surgaku milik ungu. Kebetulan kami waktu itu sedang membahas mengenai agama dalam kahidupan sehari-hari.
Pernah juga, suatu waktu. pada saat kami diskusi di alun-slun kota. kami dihampiri oleh orang gila. dengan pakaian compang-camping dan ngomong yang g karuan, tiba-tiba dia duduk di kerumunan kami dan berbicara pelan... dan sangat santun. walaupun masih ngomong ngalor ngidul. tapi... ada satu yang bisa dipetik dari omongan orang gila tadi, bahwa banyak orang yang masih senang buang sampah sembarangan walau sudah ada sampah di depannya.
Dan... Kegiatan berdiskusi sudah menjadi hobi bagiku. Bahkan sampai hari ini, kami biasa menyematkan di akhir pekan untuk berkumpul bersama. sejenak melepas lelah dan rindu setelah sibuk oleh kesibukan pribadi. Bagiku... teman-teman berdiskusiku adalah keluarga.
#30DWC
Saturday, March 5, 2016
CAMAR PANTAI KUTA
matahari sore
jingga semburat melukis horizon
camar bercanda di tengah tawa ombak
menulis sajak usang tentang
senja pantai Kuta
aku berdiri menggambar sepotong hati
dengan repih-repih wajahmu
yang perlahan memudar di sapu
sepotong kenangan
yang di hampar sisi pantai ini
dan ketika matahari merah itu surut pelan
tenggelamkan dirinya pada pelukan malam
aku tetap berdiri
tersenyum amini
air mata yang samar
ngalir di pipi
duhai
ternyata engkau telah dari kemarin
pergi dari sisiku
#30dwc
by Rahman El Hakim
jingga semburat melukis horizon
camar bercanda di tengah tawa ombak
menulis sajak usang tentang
senja pantai Kuta
aku berdiri menggambar sepotong hati
dengan repih-repih wajahmu
yang perlahan memudar di sapu
sepotong kenangan
yang di hampar sisi pantai ini
dan ketika matahari merah itu surut pelan
tenggelamkan dirinya pada pelukan malam
aku tetap berdiri
tersenyum amini
air mata yang samar
ngalir di pipi
duhai
ternyata engkau telah dari kemarin
pergi dari sisiku
#30dwc
by Rahman El Hakim
BUYAR
sepersekian detik yang lalu
beribu-ribu ide terbang bermain di mataku
menggoda waktu
betapa setelah di hadapan layar
hablurlah huruf-huruf itu
buyar arungi ruang-ruang samar
nanar
sedang langkah telah semakin gegas
mengais ruas-ruas tanpa batas
ah...
#30DWC
oleh : Rahman El Hakim
beribu-ribu ide terbang bermain di mataku
menggoda waktu
betapa setelah di hadapan layar
hablurlah huruf-huruf itu
buyar arungi ruang-ruang samar
nanar
sedang langkah telah semakin gegas
mengais ruas-ruas tanpa batas
ah...
#30DWC
oleh : Rahman El Hakim
MENGAIS SISA KATA
berjuta detik yang lalu bosan
ide sliweran
ku pungut jejeran huruf-huruf itu
di sisa sampah caci maki
mengais belatung bakteri
makna mungkin masih betah
bertahan dalam sempurnanya
keraguan
jemari yang kupaksa
anyam repih-repih imaji
gemetar di sudut gelap hatiku
seribu angsoka
di atas pusara kata
mati suri tanda baca
di racun frasa tanpa warna
duhai
#30DWC
#Rahman El Hakim
ide sliweran
ku pungut jejeran huruf-huruf itu
di sisa sampah caci maki
mengais belatung bakteri
makna mungkin masih betah
bertahan dalam sempurnanya
keraguan
jemari yang kupaksa
anyam repih-repih imaji
gemetar di sudut gelap hatiku
seribu angsoka
di atas pusara kata
mati suri tanda baca
di racun frasa tanpa warna
duhai
#30DWC
#Rahman El Hakim
Wednesday, March 2, 2016
BENARKAH MATI
nisan-nisan ini meminjam selendang waktu
tegak menentang pilu
tanpa nama
sejarah yang dibisikkan
selepas tengah malam
benarkah telah mati?
lalu kenapa aku berdiri
mengikat rampai kembang tujuh purnama
panggilmu masih abadi
menyelusup ego pribadi
kunci
nisan-nisan ini memekik sepi
menangkupnya disangkar diri
benarkah telah mati?
siapa dalam pusara
lelap tidurkah atau sekedar menukar raga?
mari berbagi
pagi ...
#30DWC
tegak menentang pilu
tanpa nama
sejarah yang dibisikkan
selepas tengah malam
benarkah telah mati?
lalu kenapa aku berdiri
mengikat rampai kembang tujuh purnama
panggilmu masih abadi
menyelusup ego pribadi
kunci
nisan-nisan ini memekik sepi
menangkupnya disangkar diri
benarkah telah mati?
siapa dalam pusara
lelap tidurkah atau sekedar menukar raga?
mari berbagi
pagi ...
#30DWC
RAYUAN TERTUNDA
ombak menjilati kedua kaki dengan cium mesra
syair cinta sekian masa
"terlalu lama kau merimba
setubuhi belantara tanpa jeda
aku nelangsa mengawani puja
waktu yang tua tanpa mantra"
begitu samar ia berbisik seketika
sedang angin menarikan dansa musim utara
lembab yang merona
pengantin kelana
dan dermaga malu-malu
joran kail umpan nirwana
desah dalam keributan makna
siapa?
tawaran menggoda
rayuan tertunda
O ... pusaran air mata
kau ijinkankah aku melompat ke dalam gelapmu?
sekedar mendekap perih
lalu kutemui Khidir di singgasa angsoka
haturkan rampai tujuh samudera
qobiltu an nikaha ...
#30DWC
by : Rahman El Hakim
syair cinta sekian masa
"terlalu lama kau merimba
setubuhi belantara tanpa jeda
aku nelangsa mengawani puja
waktu yang tua tanpa mantra"
begitu samar ia berbisik seketika
sedang angin menarikan dansa musim utara
lembab yang merona
pengantin kelana
dan dermaga malu-malu
joran kail umpan nirwana
desah dalam keributan makna
siapa?
tawaran menggoda
rayuan tertunda
O ... pusaran air mata
kau ijinkankah aku melompat ke dalam gelapmu?
sekedar mendekap perih
lalu kutemui Khidir di singgasa angsoka
haturkan rampai tujuh samudera
qobiltu an nikaha ...
#30DWC
by : Rahman El Hakim
KEMARILAH SAYANG
ada sayup panggilmu
dibisikkan angin di pucuk lalang
"Kemarilah sayang ...
membasuh rindu yang tertanam
di luang waktu yang senggang
bibir pantaiku masih merekam
sapuan ciummu yang dalam
pada pasir dan kerang
dan aku gigil melipat kenang
di ruas-ruas karang
ombak tiram perahu nelayan
dan rembulan yang ngintip diam-diam
sempat kuhardik ia dengan geram
kenangan kita tak kusuka
ia membaca apalagi mencurinya
dengan asin ini pun aku tak pernah berbagi
Ah ... kemarilah sayang
matahari telah ku utus menjemputmu
dan kita bertemu
di ujung dermaga ..."
#30DWC
#Rahman El Hakim
dibisikkan angin di pucuk lalang
"Kemarilah sayang ...
membasuh rindu yang tertanam
di luang waktu yang senggang
bibir pantaiku masih merekam
sapuan ciummu yang dalam
pada pasir dan kerang
dan aku gigil melipat kenang
di ruas-ruas karang
ombak tiram perahu nelayan
dan rembulan yang ngintip diam-diam
sempat kuhardik ia dengan geram
kenangan kita tak kusuka
ia membaca apalagi mencurinya
dengan asin ini pun aku tak pernah berbagi
Ah ... kemarilah sayang
matahari telah ku utus menjemputmu
dan kita bertemu
di ujung dermaga ..."
#30DWC
#Rahman El Hakim
Monday, February 29, 2016
BERI AKU
beri aku caci paling maki, biar lenyap segala samsara
beri aku luka paling nganga, biar tumbuh segala cahaya
beri aku kata paling siksa, biar isi jiwa
waktu tak pernah menulis bayang
ia hanya bisa menyesap tualang
waktu adalah jalan panjang:
sembahyang
hidup sekedar naik angkot
nikmati macet penuhnya celoteh penumpang
tanpa sadar sudah harus turun di terminal
beri aku cahaya purnama, biar tunai segala laknat
beri aku simponi paling sepi, biar usai segala khianat
hunjamkan aku ke pusat semesta, biar usai segala penat
#30DWC
#Rahman El Hakim
beri aku luka paling nganga, biar tumbuh segala cahaya
beri aku kata paling siksa, biar isi jiwa
waktu tak pernah menulis bayang
ia hanya bisa menyesap tualang
waktu adalah jalan panjang:
sembahyang
hidup sekedar naik angkot
nikmati macet penuhnya celoteh penumpang
tanpa sadar sudah harus turun di terminal
beri aku cahaya purnama, biar tunai segala laknat
beri aku simponi paling sepi, biar usai segala khianat
hunjamkan aku ke pusat semesta, biar usai segala penat
#30DWC
#Rahman El Hakim
untitled
sendiri
selalu dibayang-bayangi ketakutan perasaanku. pekat hadirkan dugaan yang benamkan jiwa pada lembah kekerdilan. gelap hadirkan kidung getir perjamuan. gelap membawa rintik air. gerimis intip kesadaran
rantai keinginan semakin ikat renungku
sayapku tertatih letih
merintih perih
hening
meminta ketololanku kulempar ke bak sampah
kejumudanku kutaruh di jurang ketiadaan
riuh pipit, prenjak, dan burung gereja
dalam isak tangis angin serta rerumputan
kelanaku jadi batu
pintumu tetap sama:
terkunci
segala nama dan kata
ku nisbahkan padamu
tersungkur segala:
rindu temu
#30DWC
selalu dibayang-bayangi ketakutan perasaanku. pekat hadirkan dugaan yang benamkan jiwa pada lembah kekerdilan. gelap hadirkan kidung getir perjamuan. gelap membawa rintik air. gerimis intip kesadaran
rantai keinginan semakin ikat renungku
sayapku tertatih letih
merintih perih
hening
meminta ketololanku kulempar ke bak sampah
kejumudanku kutaruh di jurang ketiadaan
riuh pipit, prenjak, dan burung gereja
dalam isak tangis angin serta rerumputan
kelanaku jadi batu
pintumu tetap sama:
terkunci
segala nama dan kata
ku nisbahkan padamu
tersungkur segala:
rindu temu
#30DWC
untitled 2
siapa yang mengetuk pintu ketika jendela terbuka
duga prasangka jadikannya kelebat ketakutan dan terburu
menafsir menakar bahasa angin yang menari di pucuk rindu
datang tak di undang pulang tak di antar
begitulah gelap bisikkan cumbuan di telinga
segala bayang mewujud dalam bentuk paling misteri
sunyi yang sendiri
mati semakin sepi
ah, cecak lantas hunjamkan kengerian
pada denyut tegang kekagetan
di manakah Tuhan?
#30DWC
duga prasangka jadikannya kelebat ketakutan dan terburu
menafsir menakar bahasa angin yang menari di pucuk rindu
datang tak di undang pulang tak di antar
begitulah gelap bisikkan cumbuan di telinga
segala bayang mewujud dalam bentuk paling misteri
sunyi yang sendiri
mati semakin sepi
ah, cecak lantas hunjamkan kengerian
pada denyut tegang kekagetan
di manakah Tuhan?
#30DWC
KAMU
adalah jalanan yang harubirukan kenangan. serupa ular yang nyelusup di bawah dedaunan. mendekam dengan sabar. diam yang menjalar
lantas lampu lampu seign kerjabkan harapan. tentang kehilangan yang tak selalu diritualkan dengan air mata. kerna dukacita adalah tangga pengembara. ruksa samsara amsal segala cahaya
dan segala aksara bermuara
kebingungan paling purba
makna seluruh makna:
cinta
#30DWC
lantas lampu lampu seign kerjabkan harapan. tentang kehilangan yang tak selalu diritualkan dengan air mata. kerna dukacita adalah tangga pengembara. ruksa samsara amsal segala cahaya
dan segala aksara bermuara
kebingungan paling purba
makna seluruh makna:
cinta
#30DWC
Thursday, February 25, 2016
MAUKAH KAU
betapa inginku melangkah ikuti hendak
mendaki tangga rumahmu dengan tulus
tanpa apa-apa
tanpa doa
tanpa kata
dan dengan lirih
akan ku ucapkan sebuah bisikan:
maukah kau menemaniku
dalam perjalanan sisa usiaku
engkau dengarkah
#R.E.H
#30DWC
mendaki tangga rumahmu dengan tulus
tanpa apa-apa
tanpa doa
tanpa kata
dan dengan lirih
akan ku ucapkan sebuah bisikan:
maukah kau menemaniku
dalam perjalanan sisa usiaku
engkau dengarkah
#R.E.H
#30DWC
PENANTIAN
Ku selalu bercengkrama
Sayup senja di tiap sore
Bayang indah mata indah itu
Datang dan pergi waktu senja mulai menepi
Tak banyak yang ku perbuat
Tak banyak yang ku sesali
Jenuh kadang menghampiri
Namun lenyap seketika
Kalah dengan manisnya lekukan bibir itu
Senja ini mungkin tersenyum
Gemuruh tarian daun itu mungkin mulai membara
Melirik insan yang masih kaku
Mimpi tak kunjung usai
Ingin dan ingin
Kian menjamur dalam kalbu
Ingin mengetuk hatimu, adinda!
#r.e.h
#30DWC
Sayup senja di tiap sore
Bayang indah mata indah itu
Datang dan pergi waktu senja mulai menepi
Tak banyak yang ku perbuat
Tak banyak yang ku sesali
Jenuh kadang menghampiri
Namun lenyap seketika
Kalah dengan manisnya lekukan bibir itu
Senja ini mungkin tersenyum
Gemuruh tarian daun itu mungkin mulai membara
Melirik insan yang masih kaku
Mimpi tak kunjung usai
Ingin dan ingin
Kian menjamur dalam kalbu
Ingin mengetuk hatimu, adinda!
#r.e.h
#30DWC
GELASKU
meretas malam
purnama
lingkaran itu menggodaku
sodorkan lembar menu
pengab diatas seporsi pilu
rengsa dalam dada
dengan sedikit terselak kunikmati juga
suapan-suapan senyap
yang titipkan lembaran-lembaran air mata
muhasabah serangga
dan aku lunglai
gelasku telah penuh coretan
hijaiyah yang mana
yang bisa kupahamkan sari madunya?
lalu dengan tanpa duga
Subuh antarkan hidangan pembuka
Hidup baru dimulai ...
Selamat pagi
#r.e.h
#30DWC
purnama
lingkaran itu menggodaku
sodorkan lembar menu
pengab diatas seporsi pilu
rengsa dalam dada
dengan sedikit terselak kunikmati juga
suapan-suapan senyap
yang titipkan lembaran-lembaran air mata
muhasabah serangga
dan aku lunglai
gelasku telah penuh coretan
hijaiyah yang mana
yang bisa kupahamkan sari madunya?
lalu dengan tanpa duga
Subuh antarkan hidangan pembuka
Hidup baru dimulai ...
Selamat pagi
#r.e.h
#30DWC
Monday, February 22, 2016
DAN SECANGKIR TEH
dan secangkir teh masih setia di depanku
temani sampai ampas terakhirnya
tersenyum ketika kutulis sajak
dia malu-malu bertanya:
"kenapa tak kau tulis cerita bunga-bunga
kenapa kau mengais belatung di comberan
dan mencermati bisik cecak pada semut itu?"
aku terdiam
entah berkhayal atau sedang kerasukan ide
mengacak-acak pemahaman diri
benarkah hari ini aku telah hidup
ataukah berpura-pura saja
atau sekedar kamuflase
dalam bingkai rutinitas
yang dengan gagahnya disebut
ibadah
tahukah engkau
#A day with Rahman El Hakim
#30 DWC- Day 8
temani sampai ampas terakhirnya
tersenyum ketika kutulis sajak
dia malu-malu bertanya:
"kenapa tak kau tulis cerita bunga-bunga
kenapa kau mengais belatung di comberan
dan mencermati bisik cecak pada semut itu?"
aku terdiam
entah berkhayal atau sedang kerasukan ide
mengacak-acak pemahaman diri
benarkah hari ini aku telah hidup
ataukah berpura-pura saja
atau sekedar kamuflase
dalam bingkai rutinitas
yang dengan gagahnya disebut
ibadah
tahukah engkau
#A day with Rahman El Hakim
#30 DWC- Day 8
Sunday, February 21, 2016
Katak dan Sang Putri
Dahulu kala,seorang penyihir jahat mengutuk seorang pangeran tampan menjadi katak buruk rupa. Kutukan tadi hanya dapt dipatahkan apabila ada putri yang mencium katak tersebut. Sesuatu yang menurut keyakinan penyihir jahat tadi tidak mungkin terjadi.
Pada saat yang sama, ada seorang putri cantik yang ingin sekali menikah dengan pangeran berwajah tampan. Tapi sayang sekali, pangeran itu tidak kunjung muncul dalam kehidupannya. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah hutan tidak jauh dari sebuah danau kecil. Dia melihat seekor katak buruk rupa yang tinggal disana. Waktu sang putri sedang duduk dengan tenang di tepi danau, merenungkan nasibnya dan merindukan kehadiran pangeran idaman, katak itu melompat kepangkuannya lalu berbicara.
Dia mengatakan pada sang putri bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang pangeran tampan, dan seandainya sang putri menciumnya. Dia akan kembali menjadi pangeran dan akan menikahi sert mencintai putri itu selama-lamanya.
Ide itu terasa menggelikan. Dengan keengganan yang besar, sang putri pun mengumpulkan keberanian dan semangatnya lalu mencium bibir katak tersebut.
Sebagaimana yang dijanjikan, si katak langsung berubah wujud menjadi seorang pangeran tampan. Dia memenuhi janjinya dan menikahi sang putri. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Pesan moral :
Rasa-rasanya hampir setiap orang mempunyai satu atau lebih dari satu, hambatan yang membuat dia tidak dapat sepenuhnya berkembang menjadi manusia yang sungguh-sungguh bahagia, sehat, serta gembira. Manusia yang menantikan datangnyta hari baru dengan penuh semangat.
"Katak" apakah di dalam kehidupan mu yang perlu di "cium" sebelum kamumeraih segala sesuatu yang mampu kamu raih? apa sajakah pengalama-pengalaman negatif dalam hidup yang perlu kamu rangkul, atasi dan manfaaatkan agar dapat mengubah diri menjadi sosok yang mengagumkan?
Pada saat yang sama, ada seorang putri cantik yang ingin sekali menikah dengan pangeran berwajah tampan. Tapi sayang sekali, pangeran itu tidak kunjung muncul dalam kehidupannya. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah hutan tidak jauh dari sebuah danau kecil. Dia melihat seekor katak buruk rupa yang tinggal disana. Waktu sang putri sedang duduk dengan tenang di tepi danau, merenungkan nasibnya dan merindukan kehadiran pangeran idaman, katak itu melompat kepangkuannya lalu berbicara.
Dia mengatakan pada sang putri bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang pangeran tampan, dan seandainya sang putri menciumnya. Dia akan kembali menjadi pangeran dan akan menikahi sert mencintai putri itu selama-lamanya.
Ide itu terasa menggelikan. Dengan keengganan yang besar, sang putri pun mengumpulkan keberanian dan semangatnya lalu mencium bibir katak tersebut.
Sebagaimana yang dijanjikan, si katak langsung berubah wujud menjadi seorang pangeran tampan. Dia memenuhi janjinya dan menikahi sang putri. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Pesan moral :
Rasa-rasanya hampir setiap orang mempunyai satu atau lebih dari satu, hambatan yang membuat dia tidak dapat sepenuhnya berkembang menjadi manusia yang sungguh-sungguh bahagia, sehat, serta gembira. Manusia yang menantikan datangnyta hari baru dengan penuh semangat.
"Katak" apakah di dalam kehidupan mu yang perlu di "cium" sebelum kamumeraih segala sesuatu yang mampu kamu raih? apa sajakah pengalama-pengalaman negatif dalam hidup yang perlu kamu rangkul, atasi dan manfaaatkan agar dapat mengubah diri menjadi sosok yang mengagumkan?
Cerpen cinta part 1
Bunyi sms itu ringkas tapi membuat Toni ketawa kecut, "Katakanlah, Ton. Apa sebab aku selalu merindukanmu. Padahal aku benci kamu!"
Malam telah semakin larut.
Di kejauhan terdengar suara burung hantu dalam kesendirian.
Rembulan muncul dari balik pepohonan. cahayanya terpancar di permukaan gerumbulan dedaunan. Diam-diam Toni melenguh. Dalam hatinya berkata, "Kalau rindu, aku juga begitu, Win. Tapi itu tidak menggugurkan fakta bahwa kita beda bak langit dan bumi. untuk apa bersama kalau kita selalu bertengkar?"
"Karena kamu tak pernah mau mengalah", begitu selalu jawab Winda. Ia ingin kekasihnya belajar mendengar dengan baik. Setelah paham baru membantah.
Tapi Toni berkilah, "Bukan aku tak mau mendengar. Aku hanya tak mau membiarkanmu mengembangkan jalan pikiran yang kacau. Justru karena aku sayang kamu. Kalau aku tak sayang, ngapain aku pusing-pusing. mau berpikir dengan cara apapun itu urusanmu!"
"Mengapa kebenaran harus selalu datang dari perspektifmu?"
"Sejauh itu menyangkut hal-hal yang harus dipecahkan dngan kepala dingin, ikuti caraku. Fokuslah pada reasoning. Setiap keputusan harus ada alasan rasionalnya. Kalau dia tak bisa memberikan alasan yang masuk akal, tinggalkan. Itu pasti produk emosimu. Emosi takkan pernah bisa menjelaskan apa-apa.
Pada suatu kali karena jengkel, Windah menyegah emosi.
"Oke, kalau begitu. dari dulu semestinya aku sudah meninggalkanmu. Karena dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku sayang kamu? Padahal bersamamu tiada hari tanpa pertengkaran. asal kamu tahu saja, Ton. Karena kuikuti emosiku itulah kita tetap bisa bersama sampai hari ini."
Itu dulu, dua tahun lalu.
Sekarang mereka sudah terpisah oleh jarak yang teramat jauh. Satu ke timur satunya ke barat. Winda pilih lari mengejar ke Udayana, Bali. Sementara Toni bekerja di Batam. Tapi semakin mereka saling menjauh, semakin kuat tikaman rasa rindu itu memancap ke jantung. Tiap kali bulan purnama muncul di langit. kesunyian segera merobek-robek hati mereka.
Sepi. Sunyi. Rindu Ingin bertemu.
"Kali ini aku paham -begitu bunyi SMS Toni suatu kali- ternyata tidak semua hal dari kehidupan ini bisa kudekati dengan rasio. Hati dan otak rasanya mereka datang dari kamar jiwa yang berbeda. "Aku juga rindu kamu, Win!"
"Kalau kamu rindu aku, kenapa kau tidak temui aku di Bali sekarang?"
"Ha, itu juga aku tak tahu. Sungguh, demi Allah aku rindu kamu, Win. Tapi kenapa aku tak segera meluncur ke tempatmu. Kali ini rasioku lumpuh. Aku bingung. Kalau kamu bisa melihatku, pasti kamu tertawa. Sedari sore tadi, aku mutar-mutar sendiri di rumah. Dari dapur ke kamar. Dari taman ke taman. Balik lagi ke dapur. Dari sore hingga larut malam begini. Kalau kakiku ada speedometernya, mungkin sudah setara 30 km aku mondar-mandir di tempat."
"Ha...ha...ha...." Winda terbahak keras di telpon.
"Kamu memang gila, Ton. Tapi jujur kuakui. Itulah yang sering membuatku tertawa tiap kali melihat tingkahmu. Kamu ini manusia dengan otak dewasa yang terperangkap hati anak-anak!"
Berkata begitu, Winda merasakan desir kuat di jantungnya. Seperti sepoi angin yang tiba-tiba nyelonong di tengah terik matahari. Winda teringat bagaimana Toni suka berfilsafat sambil tiduran di rumput. Disandarkannya kepalanya di pangkuan Winda. Tapi ketika dia akan berkomentar, mendadak terdengar seperti suara kodok keluar dari mulut Toni. tertidur pulas rupanya. Wajahnya polos bak bayi tak berdosa.
Didorong oleh panggilan keibuannya, tangan Winda membelai kening Toni.
#30DWC
Malam telah semakin larut.
Di kejauhan terdengar suara burung hantu dalam kesendirian.
Rembulan muncul dari balik pepohonan. cahayanya terpancar di permukaan gerumbulan dedaunan. Diam-diam Toni melenguh. Dalam hatinya berkata, "Kalau rindu, aku juga begitu, Win. Tapi itu tidak menggugurkan fakta bahwa kita beda bak langit dan bumi. untuk apa bersama kalau kita selalu bertengkar?"
"Karena kamu tak pernah mau mengalah", begitu selalu jawab Winda. Ia ingin kekasihnya belajar mendengar dengan baik. Setelah paham baru membantah.
Tapi Toni berkilah, "Bukan aku tak mau mendengar. Aku hanya tak mau membiarkanmu mengembangkan jalan pikiran yang kacau. Justru karena aku sayang kamu. Kalau aku tak sayang, ngapain aku pusing-pusing. mau berpikir dengan cara apapun itu urusanmu!"
"Mengapa kebenaran harus selalu datang dari perspektifmu?"
"Sejauh itu menyangkut hal-hal yang harus dipecahkan dngan kepala dingin, ikuti caraku. Fokuslah pada reasoning. Setiap keputusan harus ada alasan rasionalnya. Kalau dia tak bisa memberikan alasan yang masuk akal, tinggalkan. Itu pasti produk emosimu. Emosi takkan pernah bisa menjelaskan apa-apa.
Pada suatu kali karena jengkel, Windah menyegah emosi.
"Oke, kalau begitu. dari dulu semestinya aku sudah meninggalkanmu. Karena dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku sayang kamu? Padahal bersamamu tiada hari tanpa pertengkaran. asal kamu tahu saja, Ton. Karena kuikuti emosiku itulah kita tetap bisa bersama sampai hari ini."
Itu dulu, dua tahun lalu.
Sekarang mereka sudah terpisah oleh jarak yang teramat jauh. Satu ke timur satunya ke barat. Winda pilih lari mengejar ke Udayana, Bali. Sementara Toni bekerja di Batam. Tapi semakin mereka saling menjauh, semakin kuat tikaman rasa rindu itu memancap ke jantung. Tiap kali bulan purnama muncul di langit. kesunyian segera merobek-robek hati mereka.
Sepi. Sunyi. Rindu Ingin bertemu.
"Kali ini aku paham -begitu bunyi SMS Toni suatu kali- ternyata tidak semua hal dari kehidupan ini bisa kudekati dengan rasio. Hati dan otak rasanya mereka datang dari kamar jiwa yang berbeda. "Aku juga rindu kamu, Win!"
"Kalau kamu rindu aku, kenapa kau tidak temui aku di Bali sekarang?"
"Ha, itu juga aku tak tahu. Sungguh, demi Allah aku rindu kamu, Win. Tapi kenapa aku tak segera meluncur ke tempatmu. Kali ini rasioku lumpuh. Aku bingung. Kalau kamu bisa melihatku, pasti kamu tertawa. Sedari sore tadi, aku mutar-mutar sendiri di rumah. Dari dapur ke kamar. Dari taman ke taman. Balik lagi ke dapur. Dari sore hingga larut malam begini. Kalau kakiku ada speedometernya, mungkin sudah setara 30 km aku mondar-mandir di tempat."
"Ha...ha...ha...." Winda terbahak keras di telpon.
"Kamu memang gila, Ton. Tapi jujur kuakui. Itulah yang sering membuatku tertawa tiap kali melihat tingkahmu. Kamu ini manusia dengan otak dewasa yang terperangkap hati anak-anak!"
Berkata begitu, Winda merasakan desir kuat di jantungnya. Seperti sepoi angin yang tiba-tiba nyelonong di tengah terik matahari. Winda teringat bagaimana Toni suka berfilsafat sambil tiduran di rumput. Disandarkannya kepalanya di pangkuan Winda. Tapi ketika dia akan berkomentar, mendadak terdengar seperti suara kodok keluar dari mulut Toni. tertidur pulas rupanya. Wajahnya polos bak bayi tak berdosa.
Didorong oleh panggilan keibuannya, tangan Winda membelai kening Toni.
#30DWC
Subscribe to:
Posts (Atom)