Thursday, February 18, 2016

I hate love story

Yaps, aku benci film cinta. buatku itu adalah omong kosong. iya, omong kosong, karena cinta tiap orang berbeda, bahkan mungkin ada orang yang belum pernah merasakan mencintai ataupun dicintai. Coba kita liat semua kisah cinta yang paling populer di jagad raya ini, mulai dari Romeo dan juliet, Siti Nur Baya, Titanic dan beberapa film yang lainnya. apakah kita bener-bener bisa mengerti tentang pengertian cinta yang sebenarnya? apakah tentang dihargai, di support atau tentang sex?

Cinta adalah rasa. Dan... rasa itu bukan kata yang bisa dikisahkan begitu saja. Tapi, harus bener bener bisa diresapi, direnungkan dan dirasakan. Maka setelah itu, kita bisa menceritakan apa itu cinta. Hanya saja, dari sekian banyak pengertian tentang cinta. Dari sekian banyak kata mutiara cinta. Apa sudah benar cara kita mencinta? apa sudah sesuai?

Kebenaran memang bukanlah hal yang mutlak. tapi setidaknya kita merenung sejenak, tentang apa sih cinta itu? bagaimana cara kita mencintai agar sang Maha Cinta tidak pernah cemburu pada kita? atau kita cukupkan cinta itu pada hal-hal yang berbau nafsu. entah itu terbalut dalam perhatian, kasih sayang, pelukan atau yang lainnya.

Atau mungkin hanya orang-orang "terdahulu" saja yang benar-benar sanggup memaknai cinta yang sebenarnya. sehingga mereka bisa merasa benar-benar hidup tanpa perlu adanya motivasi atau dorongan dari orang sekitar. ya... rasa-rasanya kita terjebak dalam dunia "mobil mogok". yang perlu di dorong dan di servis dulu untuk bisa jalan. perlu ada yang mengingatkan dan memotivasi untuk bisa berkarya. perlu untuk adanya orang yang mencintai untuk bisa benar-benar hidup.

Cinta... cinta...
sudah pantaskah aku merasakannya?

#30DWC DAY 3

Tuesday, February 16, 2016

KEPADA PEREMPUANKU

Perempuanku
Apakah kau tahu seberapa besar perasaanku padamu? Apakah sampai kepadamu segala desah yang kuembuskan dalam angin? Dan terasa di kedalaman batinmu tentang kerinduanku yang tak kunjung benar-benar bisa aku nyatakan?

Serupa ulat yang ditakdirkan memakan pucuk-pucuk dedaunan di sebuah padang rumput, aku harus melahap segala apa yang ada di depanku tanpa aku mampu memilih dan memilahnya. Detik demi detik aku lalui dengan pengembaraan dalam wujud peniadaan kepada segala. Menantang matahari yang tak pernah ramah, panasnya selalu dan semakin membakar rapuhku. Mendidihkan seluruh darah dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Aku menggelegak tanpa mampu mengelak.

Berdiri tegar menghadapi dingin dan gelap malam yang terkadang tanpa cahaya apapun. Jangankan rembulan, lintang bahkan sangat sering dia bersembunyi di balik kesenyapan. Kesenyapan … iya hanya kesenyapan yang melingkupi pengembaraanku.

Ketika musim tanpa belas kasihan siramkan hujan dari langit, aku hanya terpekur sendiri tanpa pegangan. Tiada yang peduli padaku. Ilalang dan semak tempatku menggelantung, semuanya bertempur, berjuang agar tak koyak, tak roboh, dan tidak terhempas terhumbalang ke bumi. Semuanya memikirkan nasibnya sendiri.

Perempuanku
Sungguh aku sangat sering di ombang ambingkan keraguan. Aku ragu pada diriku sendiri. Ragu pada inderaku sendiri, ragu pada keberadaanku sendiri, pun aku ragu dengan perasaaanku sendiri.

Lalu datang kabar dari langit, sudah waktunya ragaku masuk ke gua pertapaanku. Tapi di mana? Tidak ada petunjuk apapun yang bisa kujadikan pedoman. Apakah aku harus ngampung sama tikus yang membuat liang dekat batu di tepi sungai? Ataukah aku pinjam lubang cacing yang pengab itu? Sungguh kebingungan ini mendekapku tanpa ampun. Kegamangan menarik seluruh daya ciptaku pada titik nadir terendah. Seperti dilempar ke dalam jurang yang teramat dalam.

Dengan keberanian yang datangnya dari negeri antah berantah, perlahan aku bangkit dari ketidakberdayaan. Aku mencari ranting paling tinggi. Merayap perlahan, kemudian menggelantung, menyelimuti diriku sendiri dengan air liurku sendiri, memintalnya menjadi benang tipis yang rapuh.

Perempuanku
Sungguh kesakitan tak pernah memberiku jeda untuk sekedar menghela nafas. Waktu mendesak dan membuatku seperti binatang buruan. Tak ada kata berhenti dan istirahat.
Sisa-sisa kepatuhan dan kepasrahan menuntun diriku menganyam benag-benang itu menjadi rumah yangbaru dan asing. Sungguh sangat asing dan gelap. Aku terpisah dari seluruh keindahan dunia luar. Betapa sepinya hidup. Suara-suara hanya terdengar lirih dan lirih. Gelap perlahan mengurungku dalam wujud nyata yang tiada tara. Pengasinganku dimulai.

Setelah sekian lama meringkuk dalam sepi tanpa tepi, tiba-tiba cahaya menyeruak. Gua pertapaanku robek, pecah! Sinar matahari begitu menyilaukan mataku. Aku bertanya dalam hati: ada apa lagi? Apakah masih belum cukup pantas segala kesakitan yang sudah aku jalani? Apakah masih kurang pertapaan dan pengasingan? Apakah pengorbanan dengan menjalani keping demi keeping kepedihan masih belum cukup? Semua diam, tiada jawaban yang bisa menerangkan segala duga prasangka dalam dadaku.

Perempuanku
Begitu lemah tubuhku setelah beribu detik menyepi, bertapa dalam kesunyian yang teramat panjang. Masihkah ada yang peduli padaku?

Aku kerjabkan kedua mataku, mencoba membiasakan pandangan dengan segala hal yang baru. Ada suara-suara yang mendengung di telingaku, tetapi terlalu samar untuk bisa aku pahami sepenuhnya. Dan aku temukan sepasang sayap tumbuh di tubuhku. Ah, aku terpana. Mencoba mengeja siapa sebenarnya aku. Mencoba menebak dan mencari tahu wujudku yang sebenarnya.

Lantas angin membelai penciumanku dengan laksaan aroma yang dulu tak pernah bisa aku tahu macamnya. Sungguh aku ingin menghirup segala wangi itu dan mengalirkannya ke dalam tubuhku, dan berharap tubuhku mampu menerjemahkannya menjadi energy kehidupan yang baru.

Perlahan aku menggerakkan kedua sayapku. Mengepakkannya dengan hati-hati. Belajar berkompromi dengan angin dan menunggangi angin. Molekul-molekul kegembiraan berdesakan di seluruh tubuhku.

Perempuanku
Ribuan warna dan aroma terhampar di hadapanku. Jutaan bunga mekar kelopaknya, menawarkan seribu kesenangan dalam wujud yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku terbang menjelajahi padang luas itu. Sekarang semuanya telah berubah. Semua tumbuhan telah mengeluarkan bunga mereka masing-masing. Meruarkan berbagai macam aroma yang sungguh sangat menggoda.

Ah, tidak aku tidak menginginkan mawar itu. Dia terlalu genit dandanannya. Duri-durinya selalu saja siap sedia melukai siapa saja yang berani mendekatinya. Kelopaknya pun terlalu rapuh untuk sekedar dipegang.

Aku juga tidak menginginkan seruni itu. Terlalu angkuh dia berdiri. Semarak warnanya tak pernah benar-benar sanggup sajikan keindahan. Kelopaknya selalu saja sediakan jebakan bagi siapa saja yang berani menghisap sari hidupnya.

Kamu… iya hanya kamu yang aku inginkan. Bunga melati di rerimbunan daun yang menghijau. Tersembunyi dari jangkauan tangan-tangan nakal cuaca. Kelopakmu adalah warna kesucian semesta.

Iya kamu, tempatku memuja Sang Maha Segala.
Menuju altar nirwana


The End

#30DWC

Monday, February 15, 2016

Day 1 #30DWC

Alhamdulillah....
Akhirnya setelah beberapa tahun belajar tentang kepenulisan. Berawal dari bengong liat temen yang udah bikin buku sendiri. Takjub liat puisi temen yang nempel di koran-koran. Apalagi kerasa banget pas jadi mahaiswa kemarin. Beh.... kaya' yang g bisa lulus aja, gimana enggak coba. Dari bikin makalah sampai bikin skripsi, semua harus tulisan dari buah pikiran sendiri. Nyontek langsung di buang sama dosenku. Akhirnya... mau g mau aku rajin ke perpus, ke toko buku, blogwalking, sampe ikut komunitas seniman dan budayawan yang pola pikir orang-orangnya buat ku jadi gila. (senyum-senyum & ketawa-ketawa sendiri kalo mikirin sesuatu)

Eh... ketemu juga sama bang rezky, yang mau memfasilitasi secara gratis selama 30 hari berturut-turut lagi. padahal.... dulu pas pengen belajar kepenulisan, sampai di belan-belani ikut seminar, kursus online (tapi g jadi karena kemahalan hehehe) ujung-ujungnya kurang greget juga tulisanku.

Aku sih berharap dengan adanya 30 Days Writing Challenge ini, bisa membuat aku dan semua personil grup #30DWC semakin produktif dalam menghasilkan karya. Apalagi koleksi buku dan e-book ku udah lama tak kusentuh (sampai banyak laba-labanya hehe). Aku juga senang akhirnya bisa blogwalking, cari inspirasi temen-temen satu grup. syukur-syukur ada yang mau ngasih saran, ide, tema, atau sekedar motivasi.

Bismillah ini adalah awal dari segalanya.
Awal untuk menjadi seorang penulis.
awal untuk menjadi seorang yang produktif
Awal menjadi seorang yang inspiratif.

Amin....

#30Dwc

Sunday, February 14, 2016

Bismillah,Yes I'am ready for 30 Day writing challenge


Bismilah.... dengan tekad bulat dan semangat menggebu-gebu. Setelah sekian lama mencari komunitas online kepenulisan pemula. Akhirnya kutemukan #30DWC. Harapanku dalam mengikuti 30DWC ini adalah agar tingkat produktivitas ku dalam membaca buku, artikel, maupun koran semakin baik. selain itu aku juga berharap tingkat kepekaanku terhadap isu-isu yang sedang hangat semakin terasah. karena selama ini aku merasa terlalu kaku dan lugu dalam menjalani hidup.


So, dengan adanya coach Rezky sebagai mentorku. ditambah lagi teman-teman penulis yang siap memberi saran maupun kritik, aku yakin, suatu saat nanti cita-citaku dalam menerbitkan sebuah buku, entah itu berupa novel, kumpulan puisi, atau sekedar coretan iseng semata akan tercapai. AMIN

#30DWC

Sunday, January 24, 2016

Lelah

entah harus bagaiaman lagi, aku merasa sudah berada di jalur yang tepat. namun, tak kusangka berat nian jalan ini. aku g sampai membayangkan akan separah ini. entah teori mana lagi yang harus aku baca. referensi mana lagi yang harus aku pahami. Berkeluarga tidak semudah yang kubayangkan, tidak segampang cerpen dan yang pernah kubaca. Ini jauh lebuh berat dari itu semua.

Aku tau, aku harus tetap fokus dalam beribadah dan tidak boleh terpengaruh oleh apapun jua. namun, aku masih bellum bisa memposisikan diriku seperti itu. setiap hari bukannya dukungan yang memang kudambakan selama ini, malah yang ada adalah beban emosi, fikiran dan mental. Uang bukan yang utama dalam hal ini.

Entah... mungkin ini yang disebut dengan sabar. Mungkin ini yang disebut dengan qona'ah.

Bondowoso, 25 Januari 2016

Friday, January 8, 2016

Dewasa

otak lusuh
hati gelisah
mata terkatung

dewasa katanya
apakah harus dengan cara ini?
apakah harus berlari dengan luka dalam

sedangkan burung diatas pohon tetap bernyanyi
matahari pun tersenyum
bahkan bulan purnama tertawa manja

mungkin aku terlalu bodoh
perutku penuh dengan makanan, tapi aku kelaparan
otakku sesak dengan seabrek teori, tapi aku begok
bidadari setiap hari menemaniku, tapi aku kesepian

duhai matahari yang sinarnya menghangatkan hati
duhai air yang dinginnya membuat kesejukan
duhai tanah yang sabar

ajarkan seonggok mahluk ini arti dewasa

Wednesday, March 6, 2013

Semester 8

Langkah perubahan...,
setelah 7 semester terkatung katung dalam mencari kepercayaan diri,tujuan hidup dan soul. akhirnya semester ini, kuberanikan diri untuk mengambil beban yang lebih berat(24 sks) dengan amanah yang tetap(ngajar). fikiranku mengakatakan bahwa ini akan terasa sangat berat bahkan tidak mungkin,namun ku yakin bahwa hanya dengan ini aku bisa semakin giat, tekun, dan kreatif dalam meyelesaikan berbagai macam masalah yang datang.