betapa inginku melangkah ikuti hendak
mendaki tangga rumahmu dengan tulus
tanpa apa-apa
tanpa doa
tanpa kata
dan dengan lirih
akan ku ucapkan sebuah bisikan:
maukah kau menemaniku
dalam perjalanan sisa usiaku
engkau dengarkah
#R.E.H
#30DWC
Thursday, February 25, 2016
PENANTIAN
Ku selalu bercengkrama
Sayup senja di tiap sore
Bayang indah mata indah itu
Datang dan pergi waktu senja mulai menepi
Tak banyak yang ku perbuat
Tak banyak yang ku sesali
Jenuh kadang menghampiri
Namun lenyap seketika
Kalah dengan manisnya lekukan bibir itu
Senja ini mungkin tersenyum
Gemuruh tarian daun itu mungkin mulai membara
Melirik insan yang masih kaku
Mimpi tak kunjung usai
Ingin dan ingin
Kian menjamur dalam kalbu
Ingin mengetuk hatimu, adinda!
#r.e.h
#30DWC
Sayup senja di tiap sore
Bayang indah mata indah itu
Datang dan pergi waktu senja mulai menepi
Tak banyak yang ku perbuat
Tak banyak yang ku sesali
Jenuh kadang menghampiri
Namun lenyap seketika
Kalah dengan manisnya lekukan bibir itu
Senja ini mungkin tersenyum
Gemuruh tarian daun itu mungkin mulai membara
Melirik insan yang masih kaku
Mimpi tak kunjung usai
Ingin dan ingin
Kian menjamur dalam kalbu
Ingin mengetuk hatimu, adinda!
#r.e.h
#30DWC
GELASKU
meretas malam
purnama
lingkaran itu menggodaku
sodorkan lembar menu
pengab diatas seporsi pilu
rengsa dalam dada
dengan sedikit terselak kunikmati juga
suapan-suapan senyap
yang titipkan lembaran-lembaran air mata
muhasabah serangga
dan aku lunglai
gelasku telah penuh coretan
hijaiyah yang mana
yang bisa kupahamkan sari madunya?
lalu dengan tanpa duga
Subuh antarkan hidangan pembuka
Hidup baru dimulai ...
Selamat pagi
#r.e.h
#30DWC
purnama
lingkaran itu menggodaku
sodorkan lembar menu
pengab diatas seporsi pilu
rengsa dalam dada
dengan sedikit terselak kunikmati juga
suapan-suapan senyap
yang titipkan lembaran-lembaran air mata
muhasabah serangga
dan aku lunglai
gelasku telah penuh coretan
hijaiyah yang mana
yang bisa kupahamkan sari madunya?
lalu dengan tanpa duga
Subuh antarkan hidangan pembuka
Hidup baru dimulai ...
Selamat pagi
#r.e.h
#30DWC
Monday, February 22, 2016
DAN SECANGKIR TEH
dan secangkir teh masih setia di depanku
temani sampai ampas terakhirnya
tersenyum ketika kutulis sajak
dia malu-malu bertanya:
"kenapa tak kau tulis cerita bunga-bunga
kenapa kau mengais belatung di comberan
dan mencermati bisik cecak pada semut itu?"
aku terdiam
entah berkhayal atau sedang kerasukan ide
mengacak-acak pemahaman diri
benarkah hari ini aku telah hidup
ataukah berpura-pura saja
atau sekedar kamuflase
dalam bingkai rutinitas
yang dengan gagahnya disebut
ibadah
tahukah engkau
#A day with Rahman El Hakim
#30 DWC- Day 8
temani sampai ampas terakhirnya
tersenyum ketika kutulis sajak
dia malu-malu bertanya:
"kenapa tak kau tulis cerita bunga-bunga
kenapa kau mengais belatung di comberan
dan mencermati bisik cecak pada semut itu?"
aku terdiam
entah berkhayal atau sedang kerasukan ide
mengacak-acak pemahaman diri
benarkah hari ini aku telah hidup
ataukah berpura-pura saja
atau sekedar kamuflase
dalam bingkai rutinitas
yang dengan gagahnya disebut
ibadah
tahukah engkau
#A day with Rahman El Hakim
#30 DWC- Day 8
Sunday, February 21, 2016
Katak dan Sang Putri
Dahulu kala,seorang penyihir jahat mengutuk seorang pangeran tampan menjadi katak buruk rupa. Kutukan tadi hanya dapt dipatahkan apabila ada putri yang mencium katak tersebut. Sesuatu yang menurut keyakinan penyihir jahat tadi tidak mungkin terjadi.
Pada saat yang sama, ada seorang putri cantik yang ingin sekali menikah dengan pangeran berwajah tampan. Tapi sayang sekali, pangeran itu tidak kunjung muncul dalam kehidupannya. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah hutan tidak jauh dari sebuah danau kecil. Dia melihat seekor katak buruk rupa yang tinggal disana. Waktu sang putri sedang duduk dengan tenang di tepi danau, merenungkan nasibnya dan merindukan kehadiran pangeran idaman, katak itu melompat kepangkuannya lalu berbicara.
Dia mengatakan pada sang putri bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang pangeran tampan, dan seandainya sang putri menciumnya. Dia akan kembali menjadi pangeran dan akan menikahi sert mencintai putri itu selama-lamanya.
Ide itu terasa menggelikan. Dengan keengganan yang besar, sang putri pun mengumpulkan keberanian dan semangatnya lalu mencium bibir katak tersebut.
Sebagaimana yang dijanjikan, si katak langsung berubah wujud menjadi seorang pangeran tampan. Dia memenuhi janjinya dan menikahi sang putri. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Pesan moral :
Rasa-rasanya hampir setiap orang mempunyai satu atau lebih dari satu, hambatan yang membuat dia tidak dapat sepenuhnya berkembang menjadi manusia yang sungguh-sungguh bahagia, sehat, serta gembira. Manusia yang menantikan datangnyta hari baru dengan penuh semangat.
"Katak" apakah di dalam kehidupan mu yang perlu di "cium" sebelum kamumeraih segala sesuatu yang mampu kamu raih? apa sajakah pengalama-pengalaman negatif dalam hidup yang perlu kamu rangkul, atasi dan manfaaatkan agar dapat mengubah diri menjadi sosok yang mengagumkan?
Pada saat yang sama, ada seorang putri cantik yang ingin sekali menikah dengan pangeran berwajah tampan. Tapi sayang sekali, pangeran itu tidak kunjung muncul dalam kehidupannya. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah hutan tidak jauh dari sebuah danau kecil. Dia melihat seekor katak buruk rupa yang tinggal disana. Waktu sang putri sedang duduk dengan tenang di tepi danau, merenungkan nasibnya dan merindukan kehadiran pangeran idaman, katak itu melompat kepangkuannya lalu berbicara.
Dia mengatakan pada sang putri bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang pangeran tampan, dan seandainya sang putri menciumnya. Dia akan kembali menjadi pangeran dan akan menikahi sert mencintai putri itu selama-lamanya.
Ide itu terasa menggelikan. Dengan keengganan yang besar, sang putri pun mengumpulkan keberanian dan semangatnya lalu mencium bibir katak tersebut.
Sebagaimana yang dijanjikan, si katak langsung berubah wujud menjadi seorang pangeran tampan. Dia memenuhi janjinya dan menikahi sang putri. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Pesan moral :
Rasa-rasanya hampir setiap orang mempunyai satu atau lebih dari satu, hambatan yang membuat dia tidak dapat sepenuhnya berkembang menjadi manusia yang sungguh-sungguh bahagia, sehat, serta gembira. Manusia yang menantikan datangnyta hari baru dengan penuh semangat.
"Katak" apakah di dalam kehidupan mu yang perlu di "cium" sebelum kamumeraih segala sesuatu yang mampu kamu raih? apa sajakah pengalama-pengalaman negatif dalam hidup yang perlu kamu rangkul, atasi dan manfaaatkan agar dapat mengubah diri menjadi sosok yang mengagumkan?
Cerpen cinta part 1
Bunyi sms itu ringkas tapi membuat Toni ketawa kecut, "Katakanlah, Ton. Apa sebab aku selalu merindukanmu. Padahal aku benci kamu!"
Malam telah semakin larut.
Di kejauhan terdengar suara burung hantu dalam kesendirian.
Rembulan muncul dari balik pepohonan. cahayanya terpancar di permukaan gerumbulan dedaunan. Diam-diam Toni melenguh. Dalam hatinya berkata, "Kalau rindu, aku juga begitu, Win. Tapi itu tidak menggugurkan fakta bahwa kita beda bak langit dan bumi. untuk apa bersama kalau kita selalu bertengkar?"
"Karena kamu tak pernah mau mengalah", begitu selalu jawab Winda. Ia ingin kekasihnya belajar mendengar dengan baik. Setelah paham baru membantah.
Tapi Toni berkilah, "Bukan aku tak mau mendengar. Aku hanya tak mau membiarkanmu mengembangkan jalan pikiran yang kacau. Justru karena aku sayang kamu. Kalau aku tak sayang, ngapain aku pusing-pusing. mau berpikir dengan cara apapun itu urusanmu!"
"Mengapa kebenaran harus selalu datang dari perspektifmu?"
"Sejauh itu menyangkut hal-hal yang harus dipecahkan dngan kepala dingin, ikuti caraku. Fokuslah pada reasoning. Setiap keputusan harus ada alasan rasionalnya. Kalau dia tak bisa memberikan alasan yang masuk akal, tinggalkan. Itu pasti produk emosimu. Emosi takkan pernah bisa menjelaskan apa-apa.
Pada suatu kali karena jengkel, Windah menyegah emosi.
"Oke, kalau begitu. dari dulu semestinya aku sudah meninggalkanmu. Karena dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku sayang kamu? Padahal bersamamu tiada hari tanpa pertengkaran. asal kamu tahu saja, Ton. Karena kuikuti emosiku itulah kita tetap bisa bersama sampai hari ini."
Itu dulu, dua tahun lalu.
Sekarang mereka sudah terpisah oleh jarak yang teramat jauh. Satu ke timur satunya ke barat. Winda pilih lari mengejar ke Udayana, Bali. Sementara Toni bekerja di Batam. Tapi semakin mereka saling menjauh, semakin kuat tikaman rasa rindu itu memancap ke jantung. Tiap kali bulan purnama muncul di langit. kesunyian segera merobek-robek hati mereka.
Sepi. Sunyi. Rindu Ingin bertemu.
"Kali ini aku paham -begitu bunyi SMS Toni suatu kali- ternyata tidak semua hal dari kehidupan ini bisa kudekati dengan rasio. Hati dan otak rasanya mereka datang dari kamar jiwa yang berbeda. "Aku juga rindu kamu, Win!"
"Kalau kamu rindu aku, kenapa kau tidak temui aku di Bali sekarang?"
"Ha, itu juga aku tak tahu. Sungguh, demi Allah aku rindu kamu, Win. Tapi kenapa aku tak segera meluncur ke tempatmu. Kali ini rasioku lumpuh. Aku bingung. Kalau kamu bisa melihatku, pasti kamu tertawa. Sedari sore tadi, aku mutar-mutar sendiri di rumah. Dari dapur ke kamar. Dari taman ke taman. Balik lagi ke dapur. Dari sore hingga larut malam begini. Kalau kakiku ada speedometernya, mungkin sudah setara 30 km aku mondar-mandir di tempat."
"Ha...ha...ha...." Winda terbahak keras di telpon.
"Kamu memang gila, Ton. Tapi jujur kuakui. Itulah yang sering membuatku tertawa tiap kali melihat tingkahmu. Kamu ini manusia dengan otak dewasa yang terperangkap hati anak-anak!"
Berkata begitu, Winda merasakan desir kuat di jantungnya. Seperti sepoi angin yang tiba-tiba nyelonong di tengah terik matahari. Winda teringat bagaimana Toni suka berfilsafat sambil tiduran di rumput. Disandarkannya kepalanya di pangkuan Winda. Tapi ketika dia akan berkomentar, mendadak terdengar seperti suara kodok keluar dari mulut Toni. tertidur pulas rupanya. Wajahnya polos bak bayi tak berdosa.
Didorong oleh panggilan keibuannya, tangan Winda membelai kening Toni.
#30DWC
Malam telah semakin larut.
Di kejauhan terdengar suara burung hantu dalam kesendirian.
Rembulan muncul dari balik pepohonan. cahayanya terpancar di permukaan gerumbulan dedaunan. Diam-diam Toni melenguh. Dalam hatinya berkata, "Kalau rindu, aku juga begitu, Win. Tapi itu tidak menggugurkan fakta bahwa kita beda bak langit dan bumi. untuk apa bersama kalau kita selalu bertengkar?"
"Karena kamu tak pernah mau mengalah", begitu selalu jawab Winda. Ia ingin kekasihnya belajar mendengar dengan baik. Setelah paham baru membantah.
Tapi Toni berkilah, "Bukan aku tak mau mendengar. Aku hanya tak mau membiarkanmu mengembangkan jalan pikiran yang kacau. Justru karena aku sayang kamu. Kalau aku tak sayang, ngapain aku pusing-pusing. mau berpikir dengan cara apapun itu urusanmu!"
"Mengapa kebenaran harus selalu datang dari perspektifmu?"
"Sejauh itu menyangkut hal-hal yang harus dipecahkan dngan kepala dingin, ikuti caraku. Fokuslah pada reasoning. Setiap keputusan harus ada alasan rasionalnya. Kalau dia tak bisa memberikan alasan yang masuk akal, tinggalkan. Itu pasti produk emosimu. Emosi takkan pernah bisa menjelaskan apa-apa.
Pada suatu kali karena jengkel, Windah menyegah emosi.
"Oke, kalau begitu. dari dulu semestinya aku sudah meninggalkanmu. Karena dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku sayang kamu? Padahal bersamamu tiada hari tanpa pertengkaran. asal kamu tahu saja, Ton. Karena kuikuti emosiku itulah kita tetap bisa bersama sampai hari ini."
Itu dulu, dua tahun lalu.
Sekarang mereka sudah terpisah oleh jarak yang teramat jauh. Satu ke timur satunya ke barat. Winda pilih lari mengejar ke Udayana, Bali. Sementara Toni bekerja di Batam. Tapi semakin mereka saling menjauh, semakin kuat tikaman rasa rindu itu memancap ke jantung. Tiap kali bulan purnama muncul di langit. kesunyian segera merobek-robek hati mereka.
Sepi. Sunyi. Rindu Ingin bertemu.
"Kali ini aku paham -begitu bunyi SMS Toni suatu kali- ternyata tidak semua hal dari kehidupan ini bisa kudekati dengan rasio. Hati dan otak rasanya mereka datang dari kamar jiwa yang berbeda. "Aku juga rindu kamu, Win!"
"Kalau kamu rindu aku, kenapa kau tidak temui aku di Bali sekarang?"
"Ha, itu juga aku tak tahu. Sungguh, demi Allah aku rindu kamu, Win. Tapi kenapa aku tak segera meluncur ke tempatmu. Kali ini rasioku lumpuh. Aku bingung. Kalau kamu bisa melihatku, pasti kamu tertawa. Sedari sore tadi, aku mutar-mutar sendiri di rumah. Dari dapur ke kamar. Dari taman ke taman. Balik lagi ke dapur. Dari sore hingga larut malam begini. Kalau kakiku ada speedometernya, mungkin sudah setara 30 km aku mondar-mandir di tempat."
"Ha...ha...ha...." Winda terbahak keras di telpon.
"Kamu memang gila, Ton. Tapi jujur kuakui. Itulah yang sering membuatku tertawa tiap kali melihat tingkahmu. Kamu ini manusia dengan otak dewasa yang terperangkap hati anak-anak!"
Berkata begitu, Winda merasakan desir kuat di jantungnya. Seperti sepoi angin yang tiba-tiba nyelonong di tengah terik matahari. Winda teringat bagaimana Toni suka berfilsafat sambil tiduran di rumput. Disandarkannya kepalanya di pangkuan Winda. Tapi ketika dia akan berkomentar, mendadak terdengar seperti suara kodok keluar dari mulut Toni. tertidur pulas rupanya. Wajahnya polos bak bayi tak berdosa.
Didorong oleh panggilan keibuannya, tangan Winda membelai kening Toni.
#30DWC
Friday, February 19, 2016
Mengajar
Mengajar itu bukan tentang menyampaikan sesuatu. mengajar itu bukan hanya mentransfer ilmu baik itu ilmu sains, sosial atau agama. mengajar itu adalah pekerjaan yan paling mulia. bahkan di sebuah hadist berbunyi, " tidak akan dibawa mati semua amal anak cucu adam kecuali 3 hal yakni ilmu yang bermanfaat, anak yang sholeh dan amal jariyah". Jelas ilmu yang bermanfaat yang dimaksud adalah mengajar.
Kita tahu bahwa semua peradaban manusia bisa berubah berkat mengajar. orang islam mengenal Rasullullah saw. yag memang di utus ke dunia untuk menyempurnakan dan mengajarkan akhlak. bahkan dalam sebuah buku 100 orang yang paling berpengaruh didunia, beliaulah yang pertama. Ya beliaulah yang pertama menyempurnakan akhlak bangsa arab jahiliah terdahulu.
Ambil contoh lagi peran wali songo di tanah jawa. mereka menyebarkan islam di tanah jawa dengan cara mengajarkan kebaikan dengan pendekatan yang amat lembut. sehingga mudah diterima oleh masyarakat jawa kala itu. memang, titik tekan peran para wali itu adalah agama. tapi mereka tidak melupakan juga sisi keilmuan yang lainnya seperti kesenian, berperang, astronomi dll.
Dari dua contoh diatas, saya ambil kesimpulan bahwa mengajar itu tidak asal mengajar. namun, ada hal-hal yang tidak boleh lepas dari mengajar itu sendiri. diantaranya adalah akhlaq yang diwujudkan dengan perilaku dan tutur kata. sehingga orang-orang yang di ajar akan mudah faham dan suka pada sang pengajar. dengan itu mereka dengan sendirinya akan mencari dan mendalami hingga akhirnya akan menjadi ahli dibidang yang mereka tekuni.
Beda dulu, beda sekarang. guru - guru sekarang hanya mengandalkan kepintarannya untuk mengajar. mereka mengira antara sikap, tutur kata dan ilmu yang di ajar tidak ada kaitannya. padahal semua itu sangat berpengaruh, terutama pada murid-murid yang memang tidak ada gairah untuk mengajar. tidak cukup cara cepat, atau cara gila dalam menyelesaikan soal. melainkan bagaimana si murid bisa ikut termotivasi dengan hadirnya guru tersebut. bahkan kalau di pondok pesantren, seorang guru/ustadz, tak pernah lepas dari mendoakan santri-santrinya. karena dengan doa itulah, ilmu yang diajarkan bisa lebih manfaat (barokah).
Aku pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa "setiap orang adalah guru buat kita".
Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi seorang "pengajar/guru" yang baik, minimal buat keluarga kita
#30DWC day 5
Kita tahu bahwa semua peradaban manusia bisa berubah berkat mengajar. orang islam mengenal Rasullullah saw. yag memang di utus ke dunia untuk menyempurnakan dan mengajarkan akhlak. bahkan dalam sebuah buku 100 orang yang paling berpengaruh didunia, beliaulah yang pertama. Ya beliaulah yang pertama menyempurnakan akhlak bangsa arab jahiliah terdahulu.
Ambil contoh lagi peran wali songo di tanah jawa. mereka menyebarkan islam di tanah jawa dengan cara mengajarkan kebaikan dengan pendekatan yang amat lembut. sehingga mudah diterima oleh masyarakat jawa kala itu. memang, titik tekan peran para wali itu adalah agama. tapi mereka tidak melupakan juga sisi keilmuan yang lainnya seperti kesenian, berperang, astronomi dll.
Dari dua contoh diatas, saya ambil kesimpulan bahwa mengajar itu tidak asal mengajar. namun, ada hal-hal yang tidak boleh lepas dari mengajar itu sendiri. diantaranya adalah akhlaq yang diwujudkan dengan perilaku dan tutur kata. sehingga orang-orang yang di ajar akan mudah faham dan suka pada sang pengajar. dengan itu mereka dengan sendirinya akan mencari dan mendalami hingga akhirnya akan menjadi ahli dibidang yang mereka tekuni.
Beda dulu, beda sekarang. guru - guru sekarang hanya mengandalkan kepintarannya untuk mengajar. mereka mengira antara sikap, tutur kata dan ilmu yang di ajar tidak ada kaitannya. padahal semua itu sangat berpengaruh, terutama pada murid-murid yang memang tidak ada gairah untuk mengajar. tidak cukup cara cepat, atau cara gila dalam menyelesaikan soal. melainkan bagaimana si murid bisa ikut termotivasi dengan hadirnya guru tersebut. bahkan kalau di pondok pesantren, seorang guru/ustadz, tak pernah lepas dari mendoakan santri-santrinya. karena dengan doa itulah, ilmu yang diajarkan bisa lebih manfaat (barokah).
Aku pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa "setiap orang adalah guru buat kita".
Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi seorang "pengajar/guru" yang baik, minimal buat keluarga kita
#30DWC day 5
Subscribe to:
Posts (Atom)